“ Kita putus “
Kata-kata itu muncul dan terdengar di telingaku berasal dari speaker handphone yang sedang aku pegang. Memang hanya dua buah kata yang terangkai dalam satu kalimat tapi dampaknya begitu besar buatku. Segalanya begitu gelap buatku. Badanku terasa melayang-layang tanpa arti. Kakiku seolah tak berpijak pada bumi di bawahku. Kata-kata itu begitu tajam menusuk jiwa dan hatiku. Segalanya terasa tak bermakna buatku…
Bukanlah hal yang mudah untuk melupakan ‘dia’. Bukan hal yang begitu sederhana sehingga bisa dirubah semudah membalikkan tangan. Selama ini tiada hari-hariku tanpa bersamanya. Hari-hari yang begitu indah dalam hidupku. Perselisihan yang timbul di antara kami, menurutku adalah hal yang wajar. Bukankah pacaran itu adalah satu usaha untuk menyatukan dua hati dan dua karakter yang berbeda?. Tapi kali ini berbeda, perselisihan yang terjadi terasa begitu hebatnya…
Memang bukan ‘dia’ yang salah. Akulah yang salah. Akulah penyebab dari semua ini. Aku terlalu banyak memberikan harapan dan asa kepadanya. Harapan dan asa tanpa kepastian buatnya. Sebenarnya bukan hanya buatnya tapi buatku juga. Situasi dan kondisi yang terjadi begitu menekan dan menghimpitku sehingga membuatku sulit untuk membagi prioritas dalam hidupku. Semua masalah yang terjadi menuntut untuk diselesaikan pertama kali. Sekuat tenaga aku bertahan walaupun penyakit yang menggerogoti badanku sudah semakin parah…
Hari-hari aku lalui seolah tanpa arah. Pernah aku mencoba untuk meninggalkan dunia ini, toh penyakit yang aku derita seolah tak mungkin untuk disembuhkan. Hanya nasihat seorang sahabat yang bisa membatalkan usaha itu. Hanya nasihat sederhana tapi bermakna besar buatku, hanya nasihat untuk menebus semua kesalahanku kepadanya atau hanya sebuah permohonan tulus dari hatiku untuk meminta maaf padanya…
Apakah aku membenci dan memusuhi ‘dia’? Tidak sama sekali jawabannya, ‘Dia’ terlalu baik untuk dibenci dan dimusuhi. Selain itu aku sangat mencintai dan menyayanginya. Aku mencintai dan menyayanginya melebihi aku menyayang sesuatu apapun di dunia ini. Walaupun hari-hari aku lalui tanpanya dan aku berusaha untuk melupakannya, tetapi tetap saja wajahnya dan hari-hari yang kulalui bersamanya tak pernah hilang dari pikiranku. Memang tak bisa kupungkiri bahwa aku masih sangat mengharapkan dan merindukan 'dia'…
Pernah terbersit keinginan untuk mencoba berhubungan dengannya saat kami bertemu. Tapi tak ada keberanianku untuk melakukannya. Mulutku seakan terkunci saat berhadapan dengannya. Aku sudah menyakitkan hati dan jiwanya, mungkinkah dia mau memaafkanku ? Mungkinkah dia mau menerimaku lagi, mungkin bukan sebagai seorang kekasih, mungkin hanya sebagai seorang teman atau sahabat…
Berhari-hari kukumpulkan keberanian untuk hanya sekedar menyapanya atau menuliskan dan mengirimkan sebuah short message kepadanya. Tak banyak kata yang ingin kuucapkan atau kutuliskan, mungkin hanya “Hai, apa kabarnya?”, kata yang ingin aku ucapkan atau aku tuliskan untuknya. Tapi keberanian itu tetap tak pernah ada dan tak pernah muncul. Tapi aku tetap akan mengumpulkan keberanian itu dan entah kapan keberanian itu muncul. Hanya Tuhan yang tahu…
You are still the one
I want to love forever
You are still the one
I want to wake up with every morning
And snuggle with every night
The one I want to share my dreams with
Build castles in the air with
The one whose hand I want to hold
When I am afraid
Whose shoulder
I want to lean on when I need support
You are still the one
I want to encourage
To make your own dreams come true
The one I want to comfort
When you need a source of strength
The one I want to hold close always
You are still the one
The only one
I want to love forever
( just for you adheq… )