Rabu, 16 Maret 2011

Cafe...


Hari ini malam Minggu dan juga belum terlalu larut malam, mungkin sekitar jam 9 malam, aku sampai di tempat itu dengan mengendarai motor kesayanganku. Hanya seorang diri dan hanya ditemani motor kesayanganku dan disambut dengan turunnya hujan rintik-rintik. Tak banyak yang berubah dengan tempat ini, tetap bersih, tenang dan tetap rapi. Tempat ini hanyalah sebuah café yang bangunannya banyak terbuat dari bambu dan beratap jerami dan letaknya berada di pinggiran kota tempat kelahiranku. Aku menyukai tempat ini karena suasana ketenangannya, bukan karna rasa makanan atau minumannya…



Setelah melalui sebuah pintu yang bermodel seperti sebuah pintu di bar-bar pada jaman western di Amerika, akupun mulai mencari sebuah tempat favoritku, letaknya di bagian ujung belakang dengan 2 buah kursi dan satu meja. Ternyata tempat itu masih kosong dan dengan bergegas aku berjalan ke arah meja favoritku. Setelah duduk, akupun memanggil seorang waitress dengan cara mengangkat tanganku dan menyalakan api dengan korek api milikku. Tak berapa lama seorang gadis dengan senyum manis di wajahnya datang dengan membawa sebuah buku menu ditangannya. Manis juga senyum dan wajahnya. Setelah memesan makanan dan minuman kesukaanku, secangkir cappucino dan sepiring kentang goreng, dia pun berlalu dan masih dengan senyum manis diwajahnya...

Tak berapa lama pesananku datang, sayang bukan si pemilik senyum manis yang mengantarkannya ke mejaku, aku mulai menikmatinya. Menikmati makanan dan suasananya. Lagu-lagu yang dialunkan seorang penyanyi wanita dengan diiringi sebuah keyboard makin membuatku terhanyut dalam suasana café ini. Pikiranku mulai melayang-layang kemana-mana. Akhirnya pikiranku hanya terpusat ke sebuah titik, ‘dia’, seseorang yang tak mungkin terlupakan dalam hidupku…

Ditengah menikmati lamunanku dengan sebatang rokok kesukaanku di tanganku, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang seolah sedang menyapaku. Akupun terhenyak sadar dan melihat seorang wanita yang mengenakan baju berwarna hitam dan bercelana jeans hitam dan dengan sepatunya berhak lumayan tinggi tepat berada di depanku…

Akh.. ternyata dia adalah Astrid, seorang adik bungsu dari seorang temanku yang sekarang sudah menetap di Belanda. Aku kenal dia sejak ia masih sekolah di Sekolah Dasar. Sedikit aku ceritakan tentang Astrid, dia berdarah campuran China dan India, umurnya sekitar 29-30 tahun, badannya langsing, tidak terlalu tinggi, berkulit kuning langsat, berambut panjang, wajahnya tidak cantik tapi manis dan enak untuk di lihat. Sebuah bentuk tubuh dan wajah yang sangat ideal, pantas beberapa majalah wanita nasional pernah menggunakannya sebagai model…

Kamipun ngobrol dan sedikit bercanda berdua. Banyak hal yang kita obrolkan, mulai dari film, olah raga, acara televisi dan lain-lain. Entah berapa batang rokok dan berapa cangkir cappucino yang kuhabiskan saat ngobrol dengannya, yang aku tahu cuman hujan sudah berhenti dan malam semakin larut…

Dalam keasyikan kami berbincang, seorang waitress datang ke meja kami, dia memberikan secarik kertas dan sebuah pena. Dia meminta kami berdua menuliskan beberapa lagu pesanan yang akan dinyanyikan oleh seorang penyanyi wanita. Akupun mulai menuliskan dua buah lagu, dua buah lagu itu adalah Solitaire dan Always On My Mind. Saat akan menyerahkan kertas itu kepada si waitress, tiba-tiba aku berubah pikiran. Aku mengatakan kepada si waitress bahwa aku akan menyanyikan sebuah lagu…

Menyanyi di depan umum? Sebuah perbuatan yang sudah lama sekali tak pernah aku lakukan. Dengan melangkah perlahan-lahan, akupun berjalan menuju panggung. Kulihat sebuah senyuman manis tersungging di bibir Astrid, seakan senyuman itu menemani langkahku menuju panggung…
Setelah mengatakan lagu yang akan kunyanyikan kepada sang pemain keyboard, akupun mulai menyanyi. Solitaire, sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh Westlife, itulah lagu yang kunyanyikan. Dengan membayangkan wajah si ‘dia’, akupun menyanyi dengan sepenuh hati dan jiwaku. Tak ada lagi Astrid, tak ada lagi pengunjung café, tak ada lagi waitres, yang ada dalam pikiranku, semua seakan menghilang dan sirna. Hanya ‘dia’ yang ada dalam pikiranku. Wajahnya, senyumnya, candanya, tawanya, semuanya hanya ‘dia’…

Akhirnya selesailah lagu itu kunyanyikan. Dengan diiringi tepukan pengunjung café, aku berjalan turun dan kembali ke mejaku. Kulihat Astrid berdiri menyambut kedatanganku. Sambil mengatakan kalau suaraku merdu dan enak di dengar, diletakkan tangannya dipundakku untuk memelukku. Akupun menolaknya dengan halus…

Maaf Astrid, Andai kamu itu adalah ‘dia’, aku akan menyambut pelukanmu. Bukan hanya pelukan, tapi sebuah ciuman mesra akan kuberikan. Sebuah ciuman mesra di kening dan di bibir untuk menyakan bahwa aku sangat menyayanginnya dan aku menyanyi untuknya…