Kamis, 24 Maret 2011

My Love and My Life...

Malam ini hujan turun begitu derasnya diiringi hembusan angin kencang dan bunyi petir yang seolah tak pernah berhenti. Jam di dindingku menunjukan waktu hampir subuh. Sudah kurang lebih 3 jam aku berada di atas tempat tidurku tanpa pernah sekejappun mataku terlelap tidur. Tak sedikitpun rasa lelah di badanku, padahal aku baru saja menyetir motor untuk sebuah perjalanan yang lumayan jauh. Beban pikiran yang sangat berat yang membuatku tak bisa tidur…

Hari ini, ditengah mulai membaiknya hubunganku dengan ‘dia’, kami berdua jalan-jalan di kota kelahiranku. Sebuah perjalanan berdua yang sudah lama tidak aku lakukan, terus terang aja aku memang merindukan perjalanan seperti ini….

Mulai makan siang di sebuah kafe yang menurutku cukup artistik, kami melanjutkan jalan-jalan ke tempat-tempat peninggalan benda-benda purbakala di kotaku. Memang awalnya kami berdua akan jalan-jalan menggunakan motor baru milik ‘dia’, tapi hujan deras membatalkan rencana itu. Akhirnya kami berdua mengendarai mobil untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lainnya…

Selama perjalanan aku tidak bisa menutupi kegembiraanku. Aku berusaha melakukan yang terbaik buatnya. Walau rasa kangenku terhadapnya tidak sepenuhnya hilang, tapi dengan melihat tawa dan candanya sudah membuat sedikit rasa kangenku terobati. Aku sangat menikmati perjalanan itu. Besar keinginanku untuk memeluk dan menciumnya di dalam mobil, tapi tak pernah aku melakukannya walau hanya sekali. Bukannya aku munafik, bisa saja dengan menyetir mobil aku memeluk dan menciumnya, tapi aku masih memikirkan keselamatan ‘dia’. Andai terjadi sebuah kecelakaan dan sesuatu terjadi pada ‘dia’, aku pasti tidak bisa memaafkan diriku…

Setelah puas berjalan-jalan, kamipun makan malam. Bukan di kafe atau rumah makan, tapi di sebuah warung sederhana di pinggir jalan. Lumayan juga rasa masakannya. Setelah itu kamipun kembali ke kota tempat kami mengais rezeki. Kami pulang dengan mengendarai motor baru milik ‘dia’. Aku memboncengnya dari berangkat sampai tempat tujuan kami. Selama perjalanan aku bisa merasakan hangatnya pelukan dan dekapannya. Diapun tertidur bersandar di punggungku, tangannya tetap memeluk dan mendekapku dengan hangat. Akupun menjaga tidurnya dengan cara berhati-hati dalam mengendarai motor. Aku juga tidak ngebut karna aku ingin berlama-lama dalam dekapan dan pelukannya…

Setelah tiba di kota tempat kami mengais rezeki, kami mampir ke terminal untuk mengambil motor kesayanganku yang aku titipkan di sana. Setelah itu kamipun menuju ke tempat ‘dia’ tinggal diiringi dengan turunnya hujan gerimis. Tak perlu aku bercerita betapa mesranya kami berdua di tempat ‘dia’ tinggal. Ketika hari makin larut malam, akupun pulang…

Tiba di rumah, setelah ganti dan cuci muka, akupun naik ke tempat tidur dan mulai berusaha untuk tidur. Tapi sedetikpun mataku tak bisa terlelap. Beban pikiran yang berat itu mulai muncul dan menghantuiku...

Teringat aku akan sakitku yang sudah semakin parah.Mungkin umurku juga gak panjang juga.  Seorang dokter yang berada di ibukota negara ini dan bergelar profesor pernah berkata kepadaku bahwa sakit yang aku derita sudah sangat parah dan kesempatanku hanya tinggal satu untuk memperpanjang hidup yaitu operasi. Dokter itu juga berkata bahwa kalau aku tidak operasi, maka kesempatanku untuk hidup lebih lama hilang. Aku sempat jengkel dengan dokter ini, berani benar dia menentukan kematian manusia, bukankah hanya Tuhan yang menentukan umur manusia, toh dia juga gak bisa menjamin berhasil atau tidaknya operasi itu…

Pertimbangan bahwa umurku yang hanya tinggal sejengkal inilah yang menjadikan beban buatku. Bukannya aku takut atau tidak siap untuk meninggalkan dunia yang fana ini, tapi karna aku juga gak mau berpisah dengan ‘dia’. Aku sangat mencintainya. Aku sangat menyayanginya. Aku sangat merindukannya…

Betapa dilematisnya masalah yang aku hadapi, bagai makan buah simalakama. Di satu sisi aku sangat ingin bersamanya selamanya dan aku tidak ingin meninggalkannya tapi di lain sisi hidupku cuman sebentar saja. Haruskah aku memaksakan kebersamaanku bersamanya, sedangkan aku tahu kalau aku harus meninggalkannya. Aku tidak mau membuat dia bersedih. Aku tidak mau membuatnya menitikan air mata karna kepergianku….

Memang ada satu hal yang pasti bisa aku lakukan yaitu berdoa kepadaNya. Memohon kesembuhan penyakitku. Dengan kesembuhan penyakitku mungkin umurku bertambah panjang dan kebersamaanku dengannya juga makin lama…


Ya Tuhanku...
sembuhkanlah penyakitku
panjangkanlah umurku
aku hanya ingin bersamanya
bersamanya dalam kebahagiaan
bersamanya dengan penuh kasih sayang

Ya Tuhanku...
jika memang permohonanku ini tak terwujud
dan aku harus meninggalkan dunia ini
berikanlah kebahagiaan kepadanya
jagalah dirinya


Ya Tuhanku...
temukanlah aku dengan dia di alam sana
agar aku bisa bersamanya selamanya
karna aku sangat menyayangi dan mencintainya

Amin…