Rabu, 16 Maret 2011

Spionase...

Hawa dingin benar-benar menyiksaku. bukan hanya lapisan kulitku saja yang ikut berontak melawannya, tulang belulangkupun juga ikut memberontak. Jaket kulit tebal yang kupakai serasa tak berguna menempel di tubuhku. Entah berapa puluh mesin pendingin yang dipakai untuk menghasilkan hawa yang begitu dingin di gedung ini. Tapi aku berusaha untuk bertahan dan berjuang melawan hawa dingin itu...

Apakah aku gila? Tidak.... Aku waras. Tapi jika ada orang tahu keadaanku yang begitu tidak memungkinkan karna penyakit parah yang kuderita, mungkin orang itu akan menganggapku gila...

Tapi memang aku harus berada disini.... Harus dan harus...



Suara penonton yang begitu bergemuruh dan serunya pertandingan, bagiku semua itu bagai alunan lagu dari sebuah musik orkestra yang dilantunkan khusus untukku. Dan dengan posis berdiri dan mendapatkan sebuah sudut pandang yang begitu sempurna, akhirnya aku bisa melihat dan memandang 'dia'. Benar-benar sempurna...

Hey... Aku bisa melihat dia lagi. Aku bisa melihat wajahnya. Aku bisa melihat lagi tawa dan candanya. Aku bisa melihat senyumnya lagi. Aku bisa melihat betapa sempurnanya tubuhnya. Akhirnya aku bisa melihat dia lagi.

Memang aku berada disana karna 'dia'. Aku kangen berat ama 'dia'. Walaupun 'dia' sudah bukan milikku lagi. Walaupun mungkin 'dia' sudah menjadi milik seseorang. Aku tak perduli. Toh aku hanya ingin melihat 'dia'...

Inipun juga bukan pertama kali aku melakukannya. Entah ini untuk yang keberapa kalinya aku berbuat seperti ini.. Aku tak pernah menghitungnya. Di tempat manapun, aku juga sudah lupa. Buatku menghitung berapa kali dan mengingat tempatnya itu bukan sesuatu yang penting. Yang penting bagiku ialah aku bisa mengobati rasa rinduku padanya...

Ketika saat pulangpun, aku tak pernah lepas dan tak pernah lelah mengamati 'dia'. Ketika 'dia' berjalan untuk pulang dan bergurau bersama dengan teman-temannya, bahkan sampai saat 'dia' makan malam bersama teman-temannya pun, tak pernah aku melepaskan pengamatanku...

Ketika semuanya berakhir, aku menyesal. Menyesali karna begitu cepat waktu itu berlalu. Rasa rinduku belum sepenuhnya terobati. Tapi mau tidak mau aku harus menerimanya. Toh besok pagi aku masih berkesempatan melihat 'dia' lagi.  Di sebuah tempat dan dalam suasana dan kondisi yang berbeda....


Dengan langkah gontai, aku berjalan kearah motorku yang kuletakan di bagian bawah gedung ini. Akupun masih bisa tersenyum, mengingat aku berhasil dalam pengamatanku kali ini. Sebuah pengamatan yang sempurna dan itu bisa kulakukan hanya dengan berbekal sebuah jaket, sebuah topi, dan sebuah kamera yang berlensa tele...


Dan jangan lupa, aku bisa bebas keluar masuk gedung ini semauku. Karna aku seorang wartawan dari sebuah surat kabar milik pemilik gedung ini, walaupun hanya sebagai seorang wartawan freelance...