Sebenarnya tempat ini adalah tempat yang indah. Tak ada yang salah dengan tempat ini. Ini hanya sebuah taman yang penuh dengan orang berolah raga dan orang berekreasi. Hanya saja mungkin aku yang salah atau memang sudah seharusnya aku berada di tempat ini. I am the wrong man in the wrong place, mungkin ini istilah yang tepat buatku…
Hari itu aku benar-benar ngantuk berat. Inilah dampak dari ngobrol semalaman bersama sahabat-sahabatku sejak kecil di sebuah villa di sebuah daerah wisata yang cukup terpencil dari kota besar. Ditambah dengan perut kekenyangan akibat terisi sarapan pagi, makin membuat mataku susah untuk dibuka…
Willy, salah seorang sahabatku, mengajakku turun untuk jalan-jalan di taman itu, dan dengan serta merta dan tegas akupun menolaknya. Aku cuman ingin tidur. Setelah para sahabatku turun dari mobil untuk jalan-jalan, akupun melanjutkan tidurku di dalam mobil…
Mataku hampir terlelap, ketika sebuah bayangan dan sebuah suara yang sangat aku kenal berjalan di samping mobil tempatku tidur. Matakupun terbuka ingin melihat siapa gerangan pemilik suara itu. Seakan tak percaya, akupun membelalakan mataku, salahkah yang aku lihat ini atau aku sedang bemimpi?...
Aku usap-usap mataku, rasa kantuk yang begitu berat tadinya sirna dengan sekejap. Benarkah yang aku lihat ini?...
Yach… Aku melihat ‘dia’. Aku melihat ‘dia’ sedang besenda gurau dan bercengkerama dengan seorang pria. Tampak diwajahnya gambaran keceriaan dan kegembiraan yang amat sangat segang melanda dirinya…
Siapakah pria itu? Temannya ataukah pacar barunya? Rasa cemburu yang begitu hebat mulai muncul di dadaku, sedikit demi sedikit mulai menyesakkan dadaku, bak api unggun yang mulai di sulut sampai menjadi terang karna telah terbakar semua kayu yang ada. Melihat si pria yang begitu menikmati bercanda dan bergurau dengan si ‘dia’, makin menambah sesak dadaku. Dan dengan bergegas akupun membuka pintu mobil dan siap melangkah untuk menemuinya dan pria itu...
Tiba-tiba hal itu kubatalkan. Sebuah pikiran waras secara tak terduga muncul di otakku. Mengingatkanku tentang siapa aku ini. Aku bukan lagi miliknya dan ‘dia’ juga bukan lagi milikku. Pintu mobil yang telah terbuka kututup lagi. Dari balik kaca mobil, aku kembali menyaksikan ‘dia’ dan pria itu bercengkerama. Dengan susah payah dan berkali-kali menghela nafas, aku berusaha menenangkan diriku, berusaha meredam api cemburu dan amarah yang melanda diriku. Berkali-kali dari mulutku keluar kata-kata bahwa aku bukan miliknya dan dia bukan milikku lagi...
Tak terasa akupun berlinang air mata. Aku akui bahwa aku masih sangat mencintai dan merindukannya. Tapi aku tak boleh cemburu lagi karna sekarang aku bukan siapa-siapa baginya. Mungkin pria itu lebih baik dari aku. Andaikata memang pria itu pengganti diriku, aku hanya bisa berkata bahwa pria itu memang lebih pantas untuknya daripada aku. Benar-benar seorang pria yang sangat beruntung. Seorang pria yang bisa mendapatkan gadis sebaik, secantik dan sepintar 'dia'...